Fenomena Nanoteknologi yang Perlu Anda Ketahui

Ilustrasi nanoteknologi © Off The Grid

MALANGTODAY.NET – Nanotechnology sangat sulit  didefinisikan. Dari kelahirannya cabang ilmu ini terserak di antara ‘reality based science’ dan ‘fantasy’.

Namun menurut kamus Meriem Webster Nanotechnology coba didefinisikan sebagai ilmu pengetahuan yang memanipulasi material yang terdapat dalam atom atau skala molekul, khususnya untuk membangun sebuah peralatan mikroskopis.

Pangkal ide nanotechnology dimulai Desember 1959, ketika legenda Nobel bidang fisika Richard Feynman menyampaikan didepan forum California Institute of Technology tentang “There’s Plenty Room at the Bottom”. Feynman  menunjuk permasalahan memanipulasi dan mengontrol sesuatu yang ‘amat kecil’ sehingga kita bisa mengatur atom seperti yang kita inginkan.

Fisikawan Amerika Serikat yang paling berpengaruh pada abad kedua puluh itu memiliki  visi pendekatan mekanis ke ilmu kimia dalam arti mensintesakan atau menempatkan atom seperti yang diinginkan ahli kimia atau chemist untuk  membuat sebuah unsur.

Richard Feynman ©National Nanotechnology Initiative

Pada akhir 1970, Eric Drexler dari MIT menindak lanjuti ide fisikawan yang dikenal sebagai seorang edukator itu. Drexler membayangkan sebuah mesin nano- scale – molecular yang dengan cepat mengatur atom dari bahan baku yang berlimpah dan murah menjadi bahan yang kita inginkan.

Kemudian pada tahun 1986, insinyur Amerika yang terkenal karena mempopulerkan potensi nanoteknologi molekul (MNT) itu menerbitkan buku The Coming Era of NanoTechnology. Buku Drexler berikutnya adalah dari disertasi doktornya di MIT tentang detail kerja Molecular Machinery Manufacturing and Computation.  “Drexler menjadi Doktor Pertama di dunia di bidang Nanotechnology”.

Pada tahun 2000 Bill Clinton mengesahkan undang undang (UU) membentuk National Nanotechnology Innitiatives atau NNI, yaitu sebuah program yang mengkoordinasikan investasi dibidang tersebut.

Dikutip dari The Rise Of The Robots,  pada 2004, Bush melanjutkan rintisan ini dengan mengesahkan UU riset Nanotech dengan anggaran sebesar $3.7 milyard. Pada periode 2001 sampai 2013, Pemerintah Federal Amerikas Serikat telah menggelontorkan dana sebesar $18 milyard ke dalam riset Nanotechnology melalui NNI. Setahun kemudian Obama menambah lagi dana sebesar $1.7 miliar.

Akhir 2013 pusat riset Institute India di Madras melaporkan penemuan ‘Nano particle untuk technology filter’ yang bisa digunakan menyaring air untuk satu keluarga dengan biaya hanya $16 per tahun.

Ilustrasi nanowaterfilters © Nanotechnology, Inc.

Filter nanotechnology ini juga akan efektif untuk proses Desalinasi Air Laut. Advanced Nanotechnology dalam aplikasinya adalah project yang padat technology dan padat modal.

Jika impian Drexler berlanjut mungkin kita akan memasuki era Advanced Nanotechnology seperti dalam film Star Trek.

Dikutip dari operatorit, Nanoteknologi datang dengan berbagai aspek dan salah satunya adalah kemampuan untuk mengatasi persoalan polusi.

Pertama, dengan kemajuan nanoteknologi akan menyebabkan berkurangnya penggunaan bahan bakar pada teknologi transportasi.

Kedua, industri-industri yang menerapkan nanoteknologi akan mengemisikan gas buangan dan limbah yang sangat sedikit sekali. Ini terjadi karena sensitivitas fabrikasi barang berbasis nanoteknologi yang sangat tinggi terhadap gas kotor dan limbah.

Ketiga, penggunaan nanofilter akan mampu menyaring  debu-debu yang berukuran dibawah orde 1 mikron.

Keempat, pembuatan berbagai barang industri berbasis nanoteknolgi akan memerlukan bahan yang sangat sedikit namun kualitasnya sama dengan atau lebih dari prosduk konvensional.

Kelima, solar cell yang efisiensinya tinggi akan ditemukan lewat nanoteknologi. Solar cell ini memiliki efisiensi tinggi dan akhirnya mengurangi pemakaian sumber energi senyawa karbon (minyak bumi dan batu bara).

Keenam, penemuan bateray dan fuel cell berkapasitas tinggi serta daya hidup lama dengan nanoteknologi akan membantu mengurangi tekanan polusi pada konsumsi yang besar. Nanoteknologi akan menemukan bahan-bahan elektroda yang memiliki potensial elektrokimia yang tinggi sehingga memiliki daya hantar listrik yang tinggi karena tidak terjadi penumpukan muatan pada elektroda.

Ketujuh, dengan nanoteknologi akan terjadi penghematan energi besar-besaran karena akan dihasilkan konduktor listrik yang resistansinya 0. Bahan untuk ini adalah karbon nano tube (CNT) yang diketahui memiliki resistansi rendah sekali.

Kedelapan, penggunaan energi hidrogen sebagai sumber energi. Penguasaan energi ini akan sangat mendorong penggunaan hidrogen sebagai pembangkit energi baru untuk menggantikan energi dari senyawa karbon yang ada.

Nanoteknologi memang tampak sangat menolong dalam mengatasi persoalan polusi. Masalahnya terjadi jika Indonesia tidak menetapkan nanoteknologi pada produk-produk industrinya. Pasalnya, disaat saat negara maju telah menguasai segalanya, maka Indonesia akan mengalami kesulitan besar.

Repost By malangtoday.net

Please follow and like us:

Leave a Reply